Senin, 24 September 2012

Pengaruh Posisi Kentongan terhadap Frekuensi


Pengaruh Posisi Memukul  Kentongan terhadap Frekuensi   yang Dihasilkan
Camalina Sugiyarti (12708251078)
Prodi Psn konsentrasi Fisika
Program Pascasarjana UNY
2012

Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah posisi memukul  kentongan berpengaruh terhadap frekuensi yang dihasilkan.  
Metode penelitian yang digunakan adalah research . Kentongan dibagi menjadi enam bagian dari ujung bawah hingga ujung atas dengan pembagian luas daerah yang sama. Pertama memukul kentongan pada bagian pertama, yaitu bagian paling bawah, lalu direkam dan dianalisis. Perekaman menggunakan software Adobe Audition 3.0.  dan analisis terhadap spektrum frekuensi menggunakan software Sound Forge Pro 10.0. Perlakuan ini dilakukan untuk semua bagian, yaitu bagian pertama hingga bagian keenam. Kemudian hasil analisis spektrum frekuensi dari keenam bagian tersebut dibandingkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bagian  mempunyai karakteristik frekuensi yang sama. 
Kata kunci: kentongan, frekuensi

Pendahuluan
Kentongan adalah alat komunikasi yang telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia. Umumnya berbentuk tabung dengan sebuah lubang di tengahnya dan disertai dengan pemukul.  Bila kentongan dipukul dengan tongkat pemukul, udara di dalamnya beresonansi, sehingga memperkuat suara.
Awalnya kentongan digunakan sebagai alat pendamping ronda, sebagai tanda pabila ada maling atau bencana alam (banjir, tanah longsor,  gempa, dll). Saat ini kegunaan kentongan semakin bervariatif, kentongan digunakan untuk pemanggil  agar  masyarakat  berkumpul di suatu tempat untuk tujuan tertentu. Petani menggunakan kentongan untuk mengusir hewan yang merusak tanamannya. Selain itu suara kentongan yang khas membuat kentongan dikenal sebagai  salah satu alat musik tradisional.
Suatu alat musik memiliki tingkatan nada (frekuensi harmonis), misal nada dasar, nada dasar pertama, kedua, ketiga , dan seterusnya. Setiap nada akan menghasilkan frekuensi  yang berbeda. Maka pada penelitian ini akan diselidiki apakah kentongan memiliki nada. Selama ini orang memukul kentongan hanya pada satu bagian tertentu saja (umumnya bagian tengah) dan diulang-ulang.
Kajian mengenai kentongan belum banyak dilakukan. Selama ini masyarakat Indonesia hanya membuat dan menggunakan kentongan untuk tujuan tertentu, namun belum sampai tahap penelitian mengenai kentongan itu sendiri. 

Metode Penelitian
Penelitian ini untuk mengetahui apakah posisi memukul  kentongan berpengaruh terhadap frekuensi  yang dihasilkan (apakah kentongan mempunyai tingkatan nada) ini merupakan penelitian research.
Variabel bebas pada penelitian ini adalah posisi pemukulan kentongan, yaitu dari ujung bawah hingga ujung atas. Variabel terikatnya frekuensi bunyi . Jenis kentongan, panjang daerah pukulan yaitu 4,3 cm, dan  kekuatan pukulan sebagai variabel kontrol.  Kekuatan pukulan dikontrol dengan cara menggunakan ayunan bola pejal. 
Langkah percobaan adalah sebagai berikut:
  1. Membuat kentongan dari bambu wulung.
  2. Membagi kentongan menjadi 6 bagian sama besar arah vertikal dari ujung bawah hingga ujung atas kentongan.
  3. Memukul kentongan dari ujung dari ujung bawah hingga ujung atas dengan ayunan bola pejal (sudut 300 dan panjang tali 15 cm) dan merekamnya menggunakan laptop yang telah dilengkapi  software Adobe Audition 3.0.
  4. Menganalisis spektrum frekuensi menggunakan software Sound Forge Pro 10.0.
Perangkat lunak Sound Forge Pro 10.0 menampilkan sinyal dalam bentuk grafik amplitudo sebagai fungsi waktu. Sedangkan untuk memperoleh dalam bentuk grafik amplitudo sebagai fungsi frekuensi dilakukan dengan mengaktifkan menu spectrum analysis. Menu bekerja berdasarkan transformasi Fourier cepat (Fast Fourier Transform, FFT).  Rentang frekuensi yang ditampilkan adalah frekuensi audio sebesar 20 – 20.000 Hz.




Hasil dan Pembahasan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop beserta disertai software, kentongan, busur, bola pejal dan tali. Seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Bola pejal(pemukul), busur, dan laptop disertai software dan microphone

Daerah pukulan pertama
 
Daerah pukulan  kedua
 
Daerah pukulan  ketiga
 
Daerah pukulan  keempat
 
Daerah pukulan  kelima
 
 Daerah pukulan  keenam
 
Gambar 2. Kentongan dengan pembagaian posisi pukulan

Gambar  3 berikut menunjukkan  spektrum warna bunyi kentongan . Spektrum tersebut adalah spektrum getaran  sebagai fungsi waktu dari keenam pukulan kentongan ( ujung bawah hingga atas /dari kiri ke kanan).


Pukulan bagian pertama     kedua          ketiga           keempat          kelima                 keenam
Gambar 3. spektrum getaran  sebagai fungsi waktu

Apabila spektrum tersebut diperbesar dengan memperhatikan waktu yang lebih pendek akan terlihat spektrum yang ditunjukkan pada Gambar 4a  dan Gambar 4b spektrum getaran  sebagai fungsi frekuensi hasil transformasi Fourier pada posisi pukulan di daerah pertama.
Gambar 4a. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu  pada posisi pukulan pertama

Gambar 4b. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi frekuensi  pada posisi pukulan pertama

Dari grafik diatas terlihat bahwa frekuensi puncak pada posisi pukulan pertama sebesar 792  Hz dengan intensitas -68 dB.
Gambar 5a menunjukkan perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu dan Gambar 5b spektrum getaran  sebagai fungsi frekuensi hasil transformasi Fourier pada posisi pukulan di daerah kedua.
Gambar 5a. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu  pada posisi pukulan kedua

Gambar 5b. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi frekuensi  pada posisi pukulan kedua

Dari grafik diatas terlihat bahwa frekuensi puncak pada posisi pukulan kedua sebesar 792  Hz dengan intensitas -69 dB.
Gambar 6a menunjukkan perbesaran spektrum getaran  sebagai fungsi waktu dan Gambar 6b spektrum getaran  sebagai fungsi frekuensi hasil transformasi Fourier pada posisi pukulan di daerah ketiga.

Gambar 6a. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu  pada posisi pukulan ketiga

Gambar 6b. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi frekuensi  pada posisi pukulan ketiga

Dari grafik diatas terlihat bahwa frekuensi puncak pada posisi pukulan ketiga sebesar 792  Hz dengan intensitas -65 dB.

Gambar 7a menunjukkan perbesaran spectrum getaran sebagai fungsi waktu  dan Gambar 7b spektrum getaran  sebagai fungsi frekuensi hasil transformasi Fourier pada posisi pukulan di daerah keempat.
Gambar 7a. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu  pada posisi pukulan keempat

Gambar 7b. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi frekuensi  pada posisi pukulan keempat

Dari grafik diatas terlihat bahwa frekuensi puncak pada posisi pukulan keempat sebesar 792  Hz dengan intensitas -61 dB.

Gambar 8a menunjukkan perbesaran spektrum getaran  sebagai fungsi waktu dan Gambar 8b spektrum getaran  sebagai fungsi frekuensi hasil transformasi Fourier pada posisi pukulan di daerah kelima.
Gambar 8a. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu  pada posisi pukulan kelima

Gambar 8b. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi frekuensi  pada posisi pukulan kelima

Dari grafik diatas terlihat bahwa frekuensi puncak pada posisi pukulan kelima sebesar 792  Hz dengan intensitas -65 dB.

Dan Gambar 9a menunjukkan perbesaran spektrum getaran  sebagai fungsi waktu dan Gambar 9b spektrum getaran  sebagai fungsi frekuensi hasil transformasi Fourier pada posisi pukulan di daerah keenam.


Gambar 9a. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi waktu  pada posisi pukulan keenam

Gambar 9b. perbesaran spektrum getaran sebagai fungsi frekuensi  pada posisi pukulan keenam

Grafik menunjukkan frekuensi puncak atau frekuensi prominent pada posisi pukulan keenam sebesar 792  Hz dengan intensitas -63 dB.
Hasil analisis frekuensi menunjukkan bahwa posisi memukul kentongan di bagian bawah maupun di atas kentongan selama pukulan tersebut masih di daerah kolom udara mempunyai frekuensi prominent yang sama. Frekuensi puncak pada daerah pukulan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam terletak pada 792 Hz. Hal ini menunjukkan bahwa kentongan tidak mempunyai frekuensi harmonis. Kentongan yang merupakan alat musik tradisional mempunyai karakteristik yang berbeda tidak seperti alat music lainnya yang pada umumnya mempunyai frekuensi harmonis. Meskipun begitu namun jika beberapa kentongan di pukul bersama-sama dengan irama pukulan tertentu atau sering disebut “kothekan” akan menghasilkan bunyi yang bagus.

Kesimpulan
Posisi memukul kentongan tidak berpengaruh terhadap frekuensi yang dihasilkan. 


Daftar Pustaka
Heru Kuswanto, dkk.(2010).Pengembangan Electrone Tone Gamelan “Guntur Madu”. Yogyakarta:FMIPA UNY.
­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­__________________.(2011).Kajian Spektrum Warna Bunyi Saron Ricik. Yogyakarta:
FMIPA UNY.
Heru Kuswanto.(2011).Comparison Study of Saron Ricik Instrument’s Sound Color (Timbre) on Gamelan Nagawilaga and Guntur Madu From Karaton Yogyakarta. International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol: 11 No: 04.
Sumiyati.(2011).Makna Lambang dan Simbol Kentongan dalam Masyarakat Indonesia. Diakses  dari http://sumiyati.blogspot.com.  pada tanggal 13 September 2012, Jam 21.15 WIB.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar