Minggu, 30 September 2012

FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DALAM PENDIDIKAN FISIKA


Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan Fisika
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu (Pengampu: Dr. Marsigit)




Camalina Sugiyarti
12708251078
Pendidikan Sains
Kelas D




Pendidikan Sains
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Yogyakarta
2012




BAB I
PENDAHULUAN

  1. Pengertian Filsafat
Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran.
Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan. Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang berarti cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami reduksi makna yaitu berpikir yang menyesatkan.
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak.

  1. Munculnya Filsafat
Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kirakira abad ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales dari Mileta. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato.

  1. Perkembangan Aliran Filsafat
Aliran filsafat bisa dianalogikan dengan suatu aliran beberapa sungai yang kemudian bermuara ke laut yang luas dan dalam. Aliran sungai yang pertama adalah aliran Parmenides, pemikiran filsafatnya berpendapat bahwa segala sesuatu “yang ada” tidak berubah. Pemikiran ini selanjutnya mempengaruhi pemikiran Plato, merupakan murid Socrates. Menurut Plato idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea, sehingga alirannya sering disebut idealis.Idealis mempengaruhi pemikiran Rene Dekartes, pemikirannya membuat sebuah revolusi filsafat di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir (rasionalisme/ analitik apriori).
Aliran sungai yang kedua adalah aliran Herakleitos, menurutnya tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap. Pemikirannya mempengaruhi Aristoteles, murid Plato. Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis), dikenal sebagai paham realis. Selanjutnya pemikiran ini mempengaruhi David Hume, paham yang dianutnya adalah empiris (sintesis aposteiri).
Di zaman modern filsuf bernama Immanuel Kant, menggabungkan dua aliran tersebut, alirannya dikenal “sintetik apriori”. Sintetik adalah pengalaman, dan apriori adlah ilmu. Ilmu hambar tanpa pengetahuan, begitu juga sebaliknya. Pada perkembangan berikutnya pos modern, semakin banyak paham-paham yang muncul, dan dianut oleh para filsuf. Dan di zaman pos pos modern, filsuf yang cukup berpengaruh adalah August Comte. Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Dari sinilah mulai muncul ilmu-ilmu bidang dan berbagai paham, seperti psikologi, sosiologi, sains, validisme, absolutism, konstruktivisme, dan lainnya. Saat ini adalah zaman power now (kotemporer) yang dikenal sebagai filsafat analitik atau bahasa.
























BAB II  
Filsafat Konstruktivisme Pendidikan Fisika

Filsafat konstruktivisme, dewasa ini, mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan. Dengan berlandaskan pada teori ini, model pembelajaran sangat berbeda dengan model pembelajaran klasik. Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan  bagaimana pengetahuan itu terjadi. Pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) bagi yang menekuninya.
Pengetahuan adalah proses menjadi lebih tahu, lebih lengkap dan lebih sempurna. Misalnya pengetahuan tentang listrik. Di SD dikenalkan bahwa lampu menyala karena ada arus yang mengalir. Di SMP dikenalkan berbagai rangkaian listrik, di SMA diperdalam lagi sampai rangkaian yang lebih kompleks dan selanjutnya terus diperdalam di perguruan tinggi.
Secara prinsipal, para konstruktivis menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Pengetahuan dikonstruksikan sendiri atau paling sedikit diinterpretasikan sendiri oleh siswa dan tidak begitu saja dipindahkan.

A.    Konstruktivisme Psikologis Personal (Piaget)
Konstruktivisme psikologis diawali oleh Piaget yang meneliti bagaimana seorang anak membangun pengetahuan kognitifnya. Seorang anak  mula-mula membentuk skema, mengembangkan skema, dan mengubah skema. Ia lebih menekankan bagaimana si individu secara sendiri mengkonstruksi pengetahuan dari interaksinya dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Pendekatan Piaget ini bersifat personal dan individual.
Dalam kasus belajar fisika, seorang anak diberi kebebasan untuk mempelajari sendiri dan kemajuannya dapat sendiri-sendiri. Tekanannya adalah siswa hanya dapat mengerti fisika bila ia sendiri belajar dan dengan demikian membangun pengetahuannya sendiri.
B.     Sosiokulturalisme (Vygotsky)
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain terlebih yang memiliki pengetahuan lebih baik  maupun lingkungan yang telah berkembang dengan baik. Misalnya seorang yang belajar fisika dipertemukan dengan ahli fisika yang dapat bercerita tentang pengalaman, pemikiran maupun penemuan-penemuannya. Dalam keterlibatan ini siswa tertantang untuk mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan konstruksi para ahli.
Menurut sosiokulturalisme, kegiatan seseorang dalam memahami sesuatu dipengaruhi oleh partisipasinya dalam praktek-praktek sosial dan kultural yang ada, seperti masyarakat, sekolah, teman dan lain-lain. Misalnya keadaan masyarakat yang mendukung pendidikan dapat membantu anak-anak berkembang lebih baik. Belajar berkelompok dapat membuat semakin yakin dengan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka dapat saling mengoreksi maupun melengkapi gagasan atau pendapat teman.
Konstruktivisme bersifat kontektual.  Jika konteksnya berbeda, maka siswa memahami konsepnya secara berbeda juga. Misalnya, seseorang anak menemukan bahwa titik didih air pada tekanan udara tinggi akan berbeda  ketika tekanan udaranya rendah.

C.    Dampak Konstruktivisme Bagi Siswa yang Belajar
Belajar adalah proses yang aktif. Siswa sendiri yang membentuk pengetahuannya. Dalam proses belajar ini, siswa menyesuaikan konsep dan ide-ide yang baru dengan kerangka berpikir yang mereka miliki. Siswa sendiri yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar mereka. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta. Di dalamnya dipenuhi dengan proses berpikir, dari membuat hipotesa, memecahkan persoalan, berefleksi dan seterusnya sampai terbentuk pengetahuan yang baru.
Dalam mempelajari suatu konsep, misalnya gerak dalam fisika, siswa sudah membawa konsep-konsep fisika sebelum mengikuti pelajaran formal di sekolah.  Konsep-konsep yang mereka bawa sering tidak tepat dan tidak sesuai. Itulah yang disebut  miskonsepsi.  Pengertian awal inilah yang perlu dikembangkan dan diluruskan dalam belajar di sekolah. Oleh karena pengetahuan dibentuk baik secara individual maupun sosial, maka belajar kelompok dapat dibentuk untuk mematangkan konstruksinya. Bagi siswa yang mempunyai gagasan salah, mereka dapat mengubahnya. Sedangkan bagi siswa yang mempunyai gagasan benar, dapat menjadi lebih yakin  dengan pengetahuannya.

D.    Dampak Konstruksivisme Bagi Guru Fisika
 Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari otak guru ke otak siswa. Mengajar lebih merupakan proses membantu siswa sendiri membangun pengetahuannya. Peran guru bukan mentransfer ilmu, melainkan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara cepat dan efektif.
Pendekatan mengajar konstruktivis dapat diungkapkan dalam beberapa sikap dan praktik sebagai berikut:
1.      Sebelum guru mengajar
a.    Guru menyiapkan bahan yang mau diajarkan dengan seksama.
b.   Guru mempersiapkan alat-alat peraga/praktikum yang akan digunakan .
c.    Guru mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk merangsang siswa aktif belajar.
d.   Guru sebaiknya mendalami keadaan siswa, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa.
e.    Guru perlu mempelajari pengetahuan awal siswa.

2.      Selama proses pembelajaran
a.       Siswa dibantu aktif belajar dan menekuni bahan.
b.      Siswa dipacu bertanya.
c.       Guru menggunakan metode ilmiah dalam proses penemuan sehingga siswa merasa menemukan sendiri pengetahuan mereka.
d.      Pikiran dan gagasan siswa diikuti.
e.       Guru perlu menggunakan bervariasi metode pembelajaran.
f.       Siswa diajak melakukan kunjungan ke tempat pengembangan IPA seperti museum sains, laboratorium  tenaga atom, dan lain-lain.
g.      Guru perlu mengadakan praktikum terpimpin maupun bebas terlebih untuk topik yang sulit sehingga siswa lebih mengerti.
h.      Siswa yang berpendapat salah atau lain tidak dicerca, sebaliknya pendapat mereka diperhatikan.
i.        Jawaban alternatif dari siswa diterima atau dibahas.
j.        Kesalahan konsep siswa ditunjukkan dengan arif.
k.      Pikiran siswa yang tidak tepat ditantang dengan menyediakan  data anomali yang berlawanan dengan gagasan siswa.
l.        Siswa diberi waktu berpikir dan merumuskan gagasan mereka, tanpa harus dikejar-kejar waktu.
m.    Siswa diberi kesempatan mengungkapkan pikirannya sehingga guru mengerti apakah gagasan mereka itu tepat atau tidak.
n.      iswa diberi kesempatan untuk mencari pendekatan dan caranya sendiri dalam belajar dan menemukan sesuatu.
o.      Guru perlu mengadakan evaluasi yang terus menerus dan menyertakan proses belajar dalam evaluasi itu.

3.   Sesudah proses pembelajaran
a.       Guru memberikan pekerjaan rumah, mengumpulkannya serta mengoreksinya.
b.      Guru perlu sering memberikan tugas lain untuk pendalaman materi.
c.       Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hapalan.

4.       Sikap yang perlu dipunyai guru
a.    Siswa dianggap  sebagai subyek yang sudah tahu sesuatu.
b.   Model kelas : siswa aktif, guru sebagai fasilitator.
c.    Bila ditanya siswa dan tidak dapat menjawab, guru tidak usah marah dan mencerca siswa. Lebih baik mengakuinya dan mencoba mencari bersama.
d.   Menyediakan ruang tanya jawab dan diskusi.
e.    Guru dan siswa saling belajar.
f.    Dalam mengajar yang penting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar sendiri.
g.   Guru perlu memberikan ruang untuk boleh salah bagi siswanya.
h.   Hubungan guru-siswa dialogal, saling dialog, dan kerja sama dalam mendalami pengetahuan.
i.     Guru mengembangkan pengetahuan yang luas dan mendalam.
j.     Guru mengerti konteks bahan yang mau diajarkan dehingga dapat menjelaskan secara kontekstual.






















BAB III  
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Filsafat merupakan upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka. Aliran filsafat berkembang dimulai dari munculnya filsafat, zaman yunani kuno, hingga sekarang zaman power now. Tokoh-tokoh filsuf di setiap zaman mempengaruhi filsuf di zaman selanjutnya. Pemikiran para filsuf tersebut melahirkan pemikiran-pemikiran, paham, dan ilmu-ilmu bidang.
Salah satu paham yang muncul pada zaman pos pos modern adalah konstrutivisme. Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan  bagaimana pengetahuan itu terjadi. Pengetahuan bukan ditransfer begitu saja dari guru ke siswa, tetapi dikonstruk sendiri oleh siswa. Peran guru adalah menciptakan kondisi agar proses konstruksi pengetahuan siswanya berjalan dengan baik (fasilitator).

B.     Saran
Masih banyak kekurangan dari penulisan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini sangat dibutuhkan penulis.









Daftar Pustaka

Suparno, Paul. (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta :Kanisius.
___________. (2007). Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta : Sanata Darma.
Marsigit. (2011). Elegi Pengembaraan Orang Tua Berambut Putih. Diakses  dari http://powermathematics.blogspot.com. pada tanggal 27 September 2012, Jam 22.15 WIB.
Filsafat. Diakses  dari http://wikipedia.com. pada tanggal 27 September 2012, Jam 21.45 WIB.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar