Rabu, 21 November 2012

MENENGOK PERJALANAN FILSAFAT PENDIDIKAN


Menengok Perjalanan Filsafat Pendidikan,
Sudah Sampai Manakah Pendidikan di Indonesia?
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu (Pengampu: Dr. Marsigit)
Camalina Sugiyarti
(12708251078/Psn D)
PPs UNY
2012

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Adanya filsafat karena keinginan untuk terlepas dari mitos. Mitos itu itu bermacam-macam. Ada mitos yang terselebungi oleh motif tertentu. Biasanya mitos digunakan oleh subjek untuk mengkokohkan kekuasaannya terhadap objek. Tengok saja salah satu mitos yang sangat terkenal di Jawa, yaitu adanya kerajaan di laut selatan dengan ratunya Nyi Roro Kidul. Mitos punya sisi putih dan sisi hitam. Sisi putihnya dari mitos Nyi Roro Kidul misalnya, masyarakat menjadi sangat menghargai laut, menjaganya, dan melestarikannya. Sisi hitamnya adalah membodohi masyarakat dari generasi ke generasi.
Filsafat terus berkembang dari zaman yunani kuno hingga saat ini, zaman power now. Awalnya filsafat hanya memikirkan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. Terus berkembang hingga objek filsafat selanjutnya beralih ke pikiran manusia. Tokoh pada zaman ini misalkan Aristoteles. Dia telah mgenal danya premis 1 dan premis 2 sehingga muncul kesimpulan. Tokoh lain adalah Plato yang banyak memikirkan mengenai masalah kenegaraan. Plato adalah guru dari Aristoteles.Dan juga ada Socrates yang merupakan guru dari Plato, Pada zaman ini disebut sebagai zaman keemasan. Lalu seiring berjalannya waktu dominasi gereja di Eropa vegitu kuat.
Kebenaran-kebenaran muncul dari gereja, semua hal yang tidak sesuai dengan konteks gereja maka dianggap menyimpang. Seperti kebenaran bahwa bumi sebagai pusat tata surya. Copernicus adalah orang yang menentang kebenaran tersebut, Copernicus mengatakan bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, namun bumi berotasi dan berevolusi terhadapa matahari. Matahari itulah pusat tata surya. Namun saat itu justru dia dianggap gila. Lalu muncul pulalah tokoh filsafat modern yang begitu terkenal dengan rasional dan empirisnya, siapa lagi kalau bukan Imanuel Kant, sang penengah bagi kaum Sintetik aposteriori dan Analitik apriori.
Kejayaan gereja lama-kelamaan juga semakin tergoyahkan karena adanya perdebatan-perdebatan. Dan pada akhirnya tak bisa dielakkan bahwa Eropa memasuki zaman kegelapan. Zaman kegelapan di Eropa justru menjadi abad keemasan bagi filsafat timur tengah dan filsafat timur/China. Karena di Eropa terjadi peperangan sehingga dokumen-dokumen filsafat yunani kuno diselamatkan, disimpan dan dipelajari oleh para filsuf timur tengah. Lantas sesudah peperangan mulai mendingin, akhirnya Eropa pun bangkit kembali. Hingga munculkah filsuf besar, Aguste Comte. Yang begitu mengagung-agungkan metode ilmiah sehingga spiritual dianggap tidak irasional. Dan bertebaranlah ilmu-ilmu bidang seperti fisika, biologi, psikologi, geologi, pendidikan, dan sebagaimya.
Spiritual dimasukkan dalam kategori tradisional. Tidak heran jika nilai spiritual tak ubahnya hanya seperti pelestarian budaya. Budaya pereayaan lebaran, perayaan natal, dan perayaan-perayaan lainnya. Sampai dinegara digdaya Amerika terjadi perang saudara antara masyarakat industri, Amerika Utara dan masyarakat agraris Amerika Selatan. Akhirnya perang dimenangkan oleh masyarakat industri. Pendidikan, maka apa yang akan terlintas pertama kali dalam pikiran anda jika anda mendengar kata pendidikan? Tentu jawaban satu orang sama lain berbeda-beda, karena hal itu bersifat relatif. Pada dasarnya Ernest menyatakan bahwa terdapat 5 ruang pendidikan, yaitu:
  1. Pendidikan menurut masyarakat industri
  2. Pendidikan menurut masyarakat konservatif
  3. Pendidikan menurut masyarakat oldmanist
  4. Pendidikan menurut masyarakat progresif
  5. Pendidikan menurut masyarakat sosioconstructism
Pendidikan menurut masyarakat nomor 1 sampai 3 mempunyai karakteristik yang hampir sama. Menurut mereka pendidikan adlah investasi, transfer, ilmu. Negara-negara yang menganut pendidikan semacam ini misalnya negara-negara sang power now seperti Amerika, Inggris (1), Jepang, Australia, Malaysia (2), China, Rusia (3). Kapitalism, utilitarian, hedodism, dan pragmatism menjadi tonggaknya. Semua berorientasi pada keuntungan, jika pendidikan tidak ada untungnya maka tidaj perlu ada pendidika.
Sedangkan masyarakat nomor 4 dan 5, menurut mereka pendidikan adalah proses, belajar. Jadi tidak hanya dilihat dari produknya saja, melainkan juga dari prosesnya. Disini siswa diberi kebebasan untuk menemukan sendiri, sehingga tidak langsung dicekoki dengan rumus-rumus atau materi-materi dari guru. Biarlah siswa melihat gejalanya dengan mata kepala sendiri, sehingga akan membangun kreativitas dan berpikir kritisnya. Tampaknya inilah pendidikan yang diinginkan oleh Indonesia. Namun apakah sudah sperti yang diinginkan? Jika ditengok lebih mendalam, belum banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang melakukan hal tersebut. Sebagian besar proses belajar mengajar masih bersifat verbalistik dan teacher centered.
Setidaknya sudah ada upaya pemerintah, guru, siswa, dan pihak-pihak pendukung pendidikan yang ingin melaksanakan pendidikan progresif. Yang menjadi catatan penting adalah, meraih kembali intuisi siswa yang telah hilang karena dicekoki oleh definisi-definisi. Usia sekolah, dari anak-anak hingga remaja adalah usia dimana mereka hidup lebih banyak menggunakan intuisi bukan definisi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar